1. Arya Wiguna - Demi Tuhan (m-Tunes Tropicale Riddim Edit) [Club Mix] (by emmusic12)

     


  2. Serba-serbi jawaban ujian

    Musim ujian sudah berlalu. Mahasiswa mulai menikmati liburan, sementara dosen mulai bekerja memeriksa jawaban-jawaban mahasiswa. Ini adalah rutinitas tiap semester dan selama lebih dari 20 tahun menjadi dosen, ada banyak sekali ragam jawaban mahasiswa yang unik. Unik di sini dapat mengandung berbagai kesan. Ada jawaban yang seakan sok tahu, ada yang lebay, ada yang terlihat putus asa, dan ada pula yang mengenaskan.

    Saya mencoba menuliskan beberapa pola yang cukup sering muncul. Silakan kalau ingin dibuat guyon dan lucu-lucuan, silakan pula jika ingin digunakan untuk bahan introspeksi dan perbaikan di kemudian hari. Tapi satu hal yang menurut saya cukup serius, saya menangkap kesan bahwa ada sebagian mahasiswa yang tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan (soal) ujian dengan baik. Sekali lagi: menjawab soal dengan baik. Biasanya frasa yang umum digunakan adalah “baik dan benar”, tapi saya hanya menyoroti aspek “baik” saja, karena masalah “benar” (atau salah) itu sudah menyangkut substansi jawaban.

    Menjawab dengan “baik” itu artinya menjawab sesuai dengan maksud (yang diinginkan) soalnya. Hal ini ternyata sering menjadi masalah, terutama untuk soal-soal essay. Contoh-contoh jawaban yang tidak “baik” misalnya: pertanyaannya menyuruh membandingkan dua hal, jawabnya malah menjelaskan tentang kedua hal tersebut. Atau pertanyaannya menyuruh menjawab dengan ringkas, jawabannya satu lembar bolak-balik. Jawaban yang “baik” adalah jawaban yang bisa mengikuti alur pikir jawaban yang diharapkan dosen saat ia membuat soal tersebut.

    Tiap dosen memang punya gaya sendiri-sendiri dalam membuat soal. Kalau saya, soal-soal (essay) saya kebanyakan “memaksa” mahasiswa untuk memahami serpihan-serpihan pengetahuan yang didapat selama kuliah dan merangkainya menjadi sebuah jawaban yang utuh, runtut, dan komprehensif. Inilah sebabnya mengapa saya cukup sering ditanya mahasiswa. Menurut mereka, jawaban mereka sudah benar, tapi mengapa nilainya tidak maksimal. Pada umumnya problemnya adalah, selain benar/salahnya jawaban, juga “rangkaian” jawaban yang mereka hasilkan. Ada yang tidak lengkap, tidak nyambung, bertele-tele, dan sebagainya, yang semua itu membuat jawaban yang muncul tidak “mulus”.

    Saya mulai saja mengidentifikasi jawaban-jawaban unik dari mahasiswa. Deskripsinya saya awali dengan penjelasan tentang materi yang saya sampaikan di kelas, diikuti dengan pertanyaan di ujian, lalu jawaban mahasiswa. Yang terakhir saya berikan komentar saya juga, bisa berupa perasaan saya setelah membaca jawaban mahasiswa, dan/atau saran perbaikannya.

    [tipe ‘grammar-hater’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: (apapun)

    Jawaban: sebenarnya substansi jawabannya tidak bermasalah, tetapi kalimat-kalimat jawaban bermasalah besar. Kalimat-kalimat itu disusun dengan tatabahasa dan tatatulis yang amburadul. Jawaban seperti ini sangat membuang waktu saya, karena perlu waktu cukup lama untuk memahami esensi dari jawaban-jawabannya. Karena jengkel, biasanya saya kurangi nilainya. Saran: mahasiswa memang tidak mengerjakan ujian tentang kebahasaan, tetapi penguasaan tatabahasa dan tatatulis yang baik tetaplah diperlukan.Otherwise, jawaban anda hanya akan membuat dosen bingung.

    [tipe ‘missed shot’]

    Materi: saya menjelaskan tentang konsep A.

    Soal ujian: pertanyaannya tentang konsep A.

    Jawaban: jawaban mahasiswa adalah A#, di mana A# adalah konsep A menurut versi mahasiswa.

    Komentar: tergantung seberapa jauh “jarak” antara A dan A#. Jika keduanya mirip, maka biasanya saya tidak mempersalahkan dan mahasiswa bisa memperoleh nilai hampir maksimal. Yang sering menjadi problem adalah jika beda A dan A# cukup signifikan. Artinya ada miskonsepsi yang dialami mahasiswa. Saya biasanya memberikan nilai rendah, dan inilah yang sering memicu protes mahasiswa. Menurut mereka, mereka sudah menjawab dengan benar. Dengan diskusi dan penjelasan yang memadai, pada umumnya mahasiswa bisa menerima nilai yang diberikan.

    [tipe ‘tersesat’]

    Materi: saya menjelaskan tentang A.

    Soal ujian: saya bertanya tentang A.

    Jawaban: mahasiswa menjawab dengan Z. Jawaban yang sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaannya.

    Komentar: sad but true, hal ini benar-benar terjadi. Saya juga tidak tahu mengapa jawabannya sama sekali tidak terkait dengan pertanyaannya. Ada indikasi terjadinya kesalahan baca atau pemahaman terhadap soal. Jadi, sebelum menjawab, bacalah soalnya berulang-ulang, dan yakinkan anda paham tentang maksud soal tersebut.

    [tipe ‘comfort-zoner’]

    Materi: saya menjelaskan tentang X dan Y. Secara deduktif, Z dapat diturunkan dari X dan Y (tapi saya tidak menjelaskan tentang Z di kelas).

    Soal ujian: saya bertanya tentang Z, dengan memberi petunjuk (clue) terkait X dan Y.

    Jawaban: mahasiswa menjawab seputar X dan Y, tapi tidak menyentuh Z.

    Komentar: saya menganggap mahasiswa yang menjawab seperti di atas sebagaicomfort-zoner. Ia merasa nyaman dengan materi yang diajarkan dan tidak mau keluar dari kenyamanan itu untuk mengeksplorasi dunia lain yang masih asing. Ketahuilah wahai para mahasiswa bahwa di dunia nyata banyak skenario problem yang mirip dengan situasi seperti di atas. Tanpa kesediaan untuk melakukan analisis secara cermat, anda tidak akan mendapatkan solusi yang maksimal

    [tipe ‘ceriwis’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: saya menanyakan tentang X dan mengharapkan jawaban X1, X2, dan X3

    Jawaban: mahasiswa tidak hanya menjawab X1, X2, dan X3, tetapi juga X4 sampai dengan X9.

    Komentar: meskipun mahasiswa dapat memenuhi harapan saya, tetapi saya tidak memberikan nilai maksimal. Prinsip saya, berlebihan itu tidak baik. Berikan saja apa yang saya minta, tidak usah dilebih-lebihkan.

    [tipe ‘calon dokter’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: (apapun)

    Jawaban: sebenarnya masalahnya bukan tentang jawabannya, tetapi tulisannya. Tulisan si mahasiswa tidak bisa saya baca.

    Komentar: biasanya saya cenderung menjadi frustrasi jika menemui jawaban semacam ini. Pada akhirnya saya menjadi malas membaca, dan memberikan nilai juga sekenanya. Saran bagi mahasiswa: jika memang anda memiliki tulisan yang jelek, usahakan untuk membuat tulisan anda bisa dibaca. Tulisan tidak harus bagus, tapi yang penting terbaca. Pengalaman saya dulu sewaktu masih mahasiswa, ada teman saya yang pintar sekali tetapi tulisannya jelek. Pada saat kami menempuh suatu matakuliah, saya sering bertanya kepada teman tadi. Saat ujian, dia mendapatkan B, saya dapat A. Saya tidak tahu mengapa teman yang mengajari saya malah dapat B sementara saya justru mendapat A. Dugaan saya, itu karena dosennya frustrasi membaca tulisannya yang jelek.

    [tipe ‘party-goer’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: (apapun)

    Jawaban: kertas jawaban dipenuhi dengan ‘hiasan-hiasan’ yang fancy. Ada kata-kata yang digarisbawahi atau bahkan diberi warna stabilo. Ada icon-icon kotak, lingkaran, dan bentuk-bentuk lain yang dituliskan dengan tinta beraneka warna. Pokoknya meriah.

    Komentar: bagi saya, tampilan kertas jawaban tidaklah berpengaruh terhadap penilaian. Jangan menghabiskan waktu untuk menghias kertas jawaban ujian, gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

    [tipe ‘religiously hopeless’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: (apapun)

    Jawaban: di awal kertas jawaban tertulis lafadz basmalah dalam tulisan Arab, lalu banyak jawaban yang kosong atau salah. Bahkan pernah ada yang di akhir kertas jawaban menyisipkan doa: “Semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak”.

    Komentar: saya selalu speechless kalau menghadapi jawaban seperti ini.

    [tipe ‘mengenaskan’]

    Materi: (apapun)

    Soal ujian: (apapun)

    Jawaban: biasanya banyak yang salah atau tidak lengkap, kertas jawaban cenderung bersih. Di akhir mahasiswa menulis ungkapan semacam ini: “Pak, mohon pertimbangannya. Saya sudah menempuh kuliah ini 3x dan semester ini saya harus lulus karena orang tua tidak mampu lagi membiayai kuliah”.

    Komentar: mixed feeling. Antara kasihan dan mangkel. Kadang saya cek ke bagian pengajaran tentang status si mahasiswa. Kalau memang kondisinya terpepet, biasanya rasa kasihan saya yang menang dan saya beri nilai lulus minimal. Tapi kalau saya menemukan indikasi bohong, saya akan luapkan rasa mangkel saya dengan memberi nilai paling rendah yang layak diterima.

    Demikianlah beberapa contoh jawaban ujian yang unik yang pernah saya temui. Ada yang bikin geli, ada yang membuat saya jadi jengkel, tapi ada pula yang menyentuh rasa iba saya. Ada yang bisa menambahkan contoh-contoh jawaban unik lainnya?

    Dikutip dari: http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/02/25/serba-serbi-jawaban-ujian/

     


  3. Tips Mencari Beasiswa

    Saya sering dimintai bantuan untuk membuat surat rekomendasi bagi mahasiswa yang akan melamar beasiswa untuk ikut program studi lanjut, pertukaran mahasiswa, kunjungan singkat, dan sebagainya. Tadi siangpun ada mahasiswa yang meminta saya membuatkan surat rekomendasi itu. Iseng-iseng saya tanya,”Mas, tujuan anda mencari beasiswa ke luar negeri ini untuk apa?”. Dia menjawab,”Saya ingin belajar tentang teknologi informasi pak.” Saya lalu bilang lagi,”Mas, andaikan yang bertanya seperti itu adalah pemberi beasiswa, pasti anda tidak lolos seleksi. Dia tidak akan tertarik dengan jawaban yang naif semacam itu.” Dia akan berpikir,”Ngapain saya harus susah-susah keluar uang untuk membiayai anda belajar TIK di luar negeri? Di Indonesia saja kan bisa…”

    Sepertinya masih banyak mahasiswa yang belum mengerti bagaimana menempatkan dirinya sebagai pelamar beasiswa yang baik. Melamar beasiswa itu artinya memintabeasiswa, dan situasinya selalu saja ada banyak orang lain yang juga meminta beasiswa yang sama, sementara ketersediaannya terbatas. Pemberi beasiswa harus memilih siapa yang layak diberi beasiswa. Jadi dari kacamata pelamar, dia harus berusaha agar terpilih.

    Bagaimana agar dapat terpilih? Sederhananya, seseorang akan terpilih jika pemberi beasiswa tertarik padanya. Jadi persoalannya adalah bagaimana bisa menarik perhatian pemberi beasiswa sehingga ia mau memberikannya kepada kita.

    Ada banyak strategi untuk membuat pemberi beasiswa tertarik. Yang paling mendasar, penuhilah persyaratan administrasi yang ditetapkannya. Kalau dia meminta dokumen A, B, C, dan D, berikanlah dokumen A, B, C, dan D. Pada saat menyerahkan dokumen-dokumen tersebut, atur dan tatalah dengan rapi sehingga mudah diakses dan dibaca.

    Yang kedua, pahamilah keinginan si pemberi beasiswa. Jangan dikira sebuah beasiswa diberikan secara free dan tidak mengharapkan balasan sama sekali. Pasti ada keinginan atau kepentingan pemberi beasiswa yang melatarbelakanginya. Sayangnya agak sulit untuk menebak, karena biasanya keinginan tersebut tidak muncul secara eksplisit. Keinginan itu seringkali berjangka panjang dan bersifat strategis, sehingga tidak mudah untuk dilihat. Sebagai contoh, Australia memberikan beasiswa untuk banyak mahasiswa Indonesia karena negara itu melihat Indonesia punya peran penting dalam menjaga kestabilan kawasan dan meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara. Beasiswa lain semacam Endeavour (Australia) atau Chevening (Inggris) secara jelas membidik calon-calon pemimpin masa depan (future leaders).

    Setelah berhasil mengidentifikasi kira-kira apa keinginan si pemberi beasiswa, cobalah menempatkan diri dalam kerangka keinginan/harapan tersebut. Seolah-olah katakan kepada pemberi beasiswa,”Hey donor, kalau engkau punya keinginan seperti itu, aku mampu membantumu merealisasikannya.”

    Caranya bagaimana? Di sinilah peran “statement of purpose” menjadi penting. Dalam banyak formulir aplikasi, ada isian tentang tujuan kita melamar beasiswa tersebut. Isikan tujuan kita dan buatlah tujuan tersebut berada dalam kerangka keinginan si donor. Tujuan kita mungkin cukup spesifik dan sempit, tapi posisikan tujuan mikro tersebut sebagai bagian dari tujuan makro yang dikehendaki oleh pemberi beasiswa. Kita ingin menanamkan kesan bahwa kita punya harapan yang sama dengan pemberi beasiswa, dan kita bisa menjadi bagian dari usaha merealisasikan harapan tersebut. Logikanya sederhana saja. Seseorang yang dibantu merealisasikan keinginannya pastilah senang. Harapannya, dia kemudian ganti bersedia membantu kita.

    Sebagai contoh, anda ingin melamar beasiswa Chevening untuk belajar tentang TIK di Inggris. Karena Chevening jelas-jelas sangat menonjolkan aspek kepemimpinan, maka tunjukkan faktor ini dalam statement of purpose anda. Anda bisa menyatakan, misalnya, ingin belajar tentang teknologi informasi ke Inggris untuk kelak diterapkan dalam program-program pembelajaran inovatif berbasis TIK bagi masyarakat pedesaan. Jelaskan bagaimana rencana anda setelah selesai studi di Inggris, dan tunjukkan bahwa anda bisa memenuhi harapan Chevening dalam menjadi leader dan inovator bagi pembangunan daerah.

    Setelah menyampaikan apa tujuan anda mencari beasiswa, tunjukkan bahwa dalam mencapai tujuan itu anda punya “modal”. Modal di sini bisa berarti kemampuan atau pengalaman yang mendukung usaha-usaha anda (kelak) dalam mencapai tujuan anda tadi. Di sinilah CV anda menjadi penting. Informasi dalam CV akan menunjukkan apakah tujuan anda itu realistis atau tidak. Tujuan akan dianggap tidak realistis jika tidak didukung oleh track record yang menunjang. Karena itu, tunjukkan track record anda selama ini dalam CV, dan tekankan terutama pada item-item yang terkait dengan perjalanan anda dalam mencapai tujuan. Jadi antara tujuan melamar beasiswa dan CV memang perlu ada keselarasan. Jadi jika tujuan anda melibatkan perencanaan dan eksekusi program pengembangan TIK yg melibatkan banyak pihak, track recordpengalaman berorganisasi menjadi penting. Sebaliknya jika tujuan anda berfokus pada riset, kemampuan akademik dan pengalaman riset akan lebih diutamakan.

    Satu tips lagi: berikan sesuatu yang melebihi ekspektasi pemberi beasiswa. Jika anda melakukan itu, pemberi beasiswa akan punya kesan bahwa anda sangat serius dalam menyiapkan aplikasi anda. Sebagai contoh, dulu waktu saya melamar beasiswa AIDAB, tidak ada syarat keharusan mendapatkan surat rekomendasi dari calon supervisor. Meskipun demikian, saya tetap mencari surat tersebut dan melampirkannya dalam berkas aplikasi. Saya ingin pemberi beasiswa punya kesan bahwa saya sangat siap untuk diberi beasiswa. Syarat akademik oke, skor IELTS oke, surat penerimaan dari universitas tujuan oke, ditambah dengan rekomendasi dari calon profesor. Dari sisi berkas, tidak ada alasan bagi donor utk menolak aplikasi saya.

    Yang terakhir: jangan lupa berdoa. Bagaimanapun juga Tuhanlah yang menentukan hasil akhir ikhtiar kita. Good luck!

    Dikutip dari: http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/02/26/tips-mencari-beasiswa/

     


  4. Taking Control of Your Life

    Meskipun dalam acara pelepasan wisuda saya tidak lagi berdiri di depan untuk memberikan sambutan dalam acara pelepasan wisudawan/wisudawati, tapi ijinkan saya untuk tetap memberikan inspirasi sebagai bekal untuk menempuh tahapan kehidupan Anda selanjutnya. Keinginan menginspirasi ini juga dipicu oleh curhat seorang mahasiswa bimbingan saya yang merasa hidupnya agak messed up karena apapun yang dia kerjakan selalu berujung pada kekacauan dan kegagalan. Dan beberapa waktu yang lalu  saat browsing saya menemukan sebuah tulisan singkat yang mungkin bisa menginspirasi. Saya sadur di sini dan sedikit memodifikasinya agar lebih mudah dipahami.

    [begin of story]

    Alkisah ada seseorang yang dianggap sangat pintar, begitu pintarnya sehingga dikatakan dia bisa menjawab apapun pertanyaan yang diajukan kepadanya. Suatu hari ada seorang anak yang mendengar berita tentang kehebatan orang ini, dan dia berniat mengujinya.

    Dia lalu menangkap seekor anak burung yang masih kecil, lalu pergi ke rumah orang pandai itu. Sambil menggenggam anak burung tadi, dia bertanya kepada si orang pintar.

    “Pak, coba tebak, apakah seekor burung di tanganku ini dalam keadaan hidup atau mati?”

    Mendengar pertanyaan itu, si orang pandai tersenyum lalu menjawab,”Nak..jika kujawab burung itu hidup, maka engkau akan meremasnya sampai mati untuk membuktikan bahwa jawabanku salah. Sebaliknya jika kujawab burung itu mati, maka kau buka tanganmu dan melepaskannya, juga untuk membuktikan bahwa jawabanku salah.”

    Si anak menjadi speechless mendengar jawaban si orang pandai itu, yang kemudian melanjutkan kata-katanya.

    “Lihatlah nak, tanganmu itu begitu berkuasanya, ia bisa menentukan hidup dan mati. Dan itu sepenuhnya adalah pilihanmu…”

    [end of story]

    Anda, para mahasiswa, ibaratnya si anak dalam cerita di atas. Di tangan anda tergenggam benih-benih kesuksesan. Anda punya pengetahuan, pengalaman, prestasi, dan berbagai potensi besar lainnya. Dan anda juga punya kewenangan penuh untuk menentukan pilihan yang sangat penting: akan anda apakan potensi besar itu. Mau digunakan untuk hal-hal positif bisa, dipakai untuk menyusuri jalan yang gelap juga bisa.

    Banyak mahasiswa yang memiliki kelebihan tertentu. Mahasiswa hacker misalnya, bisa menggunakan kemampuan hackingnya untuk merusak situs web orang lain, atau sebaliknya membantu orang lain untuk memperkuat keamanan situsnya. Seorang gamersejati misalnya, bisa menenggelamkan diri pada dunia game online sehingga lupa belajar dan istirahat, atau membantu menciptakan game-game baru yang bermanfaat. Pilihan-pilihan itu sama-sama menentukan jalan hidup anda selanjutnya. Mana yang dipilih, itu sepenuhnya kewenangan anda.

    Kadang-kadang opsi pilihan yang muncul tidaklah hitam-putih tapi abu-abu. Kadang pilihannya bukan tentang hidup dan mati, atau baik dan buruk, tapi tetap saja sangat penting. Sering kali kontras antara opsi-opsi yang ada tidak jelas, sehingga tidak mudah pula untuk memutuskan, tetapi pada akhirnya pilihan harus tetap diambil. Contoh: memilih konsentrasi penuh untuk kuliah, atau kuliah sambil bekerja. Opsi kedua kadang menjadi penting saat biaya kuliah menjadi kendala. Contoh lain: setelah lulus mau bekerja di mana. Sering kali tidak mudah untuk menentukan tempat kerja, perusahaan atau kantor, atau bahkan profesi yang akan digeluti. Hal-hal seperti ini biasanya membuat bingung, apa lagi jika dipikirkan dalam kondisi yang kemrungsung, emosional, atau tertekan.

    Kalau mengalami kesulitan seperti di atas, kepada siapa kita bisa bertanya. Saran saya, bertanyalah kepada si orang pandai dalam cerita di atas. By the way, siapa orang pandai itu? Ia adalah hati nurani anda. Dia tidak pernah berbohong dan selalu akan bisa menjawab pertanyaan dan problem anda, apapun itu. Dalam tingkat yang paling murni, ia adalah representasi Tuhan. Tuhan selalu senang jika ditanya hambanya, dan Tuhan pasti akan memberikan jawaban terbaik…

    Oh…ada satu syarat untuk bisa mendapatkan jawaban yang benar. Syaratnya adalah bahwa kita harus jujur terhadap diri sendiri. Jangan bertanya dengan niat menguji seperti pada cerita di atas. Jangan bertanya untuk mendapatkan pembenaran atas pendapat yang dipegang. Bertanyalah secara tulus dan murni, secara genuine. InsyaAllah jawabannya juga akan genuine.

    Jujur pada diri sendiri itu sulit lho. Sulit sekali. Mengapa sulit? Karena biasanya pikiran kita sering diikuti oleh kepentingan-kepentingan nafsu rendah yang bermanifestasi dalam bentuk egoisme, prasangka, dan sebagainya. Nafsu rendah itu sering membonceng, mengotori, dan akhirnya menutupi kemurnian hati nurani kita. Parahnya, kita sering tidak sadar telah diboncengi karena kita terbiasa bergelimang dengan nafsu-nafsu tersebut. Akibatnya kita tidak bisa mendapatkan jawaban yang murni pula.

    Last but not least, sekali pilihan diambil, konsistenlah dengan itu. Bahwa di belakang pasti akan muncul konsekuensi-konsekuensi yang mungkin tidak menyenangkan, semua itu juga harus dijalani dengan lapang dan ikhlas. Tidak ada hidup yang sepenuhnya mulus, tapi setiap rintangan yang muncul selalu memiliki hikmah yang berguna. Tidak ada sesuatupun yang sia-sia dalam hidup ini. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

    So…make your choice, guys. Semoga berhasil dengan pilihan anda, apapun itu…

    *dedicated to my students*

    Dikutip dari http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/02/26/taking-control-of-your-life/

     


  5. Uang Kuliah Tunggal

    muhammadakhyar:

    Tulisan ini adalah karya Bambang Triatmodjo, Guru Besar Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM. Terbit di Kompas, 19 Februari 2013. Silahkan disimak.


    Pendaftaran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri telah dimulai sejak 1 Februari hingga 8 Maret 2013. SNMPTN diperuntukkan bagi siswa SMA sederajat yang mengikuti UN 2013 berdasarkan penjaringan prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor semester III, IV, dan V.

    Selain SNMPTN, masih ada seleksi bentuk lain yang bergantung pada masing-masing PTN. Contohnya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan seleksi masuk melalui tiga sistem, yakni SNMPTN yang akan menerima 50 persen dari daya tampung, seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) yang akan menerima 30 persen, dan seleksi/ujian mandiri (UM) yang akan menerima 20 persen dari daya tampung. SNMPTN didasarkan pada nilai rapor, sedangkan SBMPTN dan UM didasarkan pada ujian tulis.

    Calon mahasiswa dan orangtuanya harus mulai memilih program studi (prodi) yang sesuai dengan cita-cita anak. Namun, tidak kalah penting adalah mencermati biaya pendidikan di setiap program studi yang nilainya berbeda. Pada umumnya, biaya pendidikan pada prodi favorit seperti pendidikan dokter, teknik, dan ekonomi lebih mahal daripada prodi yang kurang favorit. Tentu saja biaya pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.

    Seberapa banyak biaya yang harus disediakan orangtua? Sebagai gambaran, biaya pendidikan di UGM meliputi sumbangan peningkatan mutu akademik (SPMA) yang dibayar sekali selama pendidikan dengan nilai bervariasi bergantung prodi dan penghasilan orangtua. SPMA di fakultas teknik (FT) bervariasi dari Rp 5 juta sampai Rp 40 juta, sedangkan fakultas kedokteran (FK) Rp 10 juta-Rp 100 juta. Biaya lainnya sama untuk seluruh fakultas, meliputi SPP (Rp 500.000 per semester) dan BOP (Rp 75.000 per SKS per semester untuk eksakta dan Rp 60.000 per SKS per semester untuk ilmu sosial).

    Rata-rata biaya sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) dan biaya operasional pendidikan (BOP) mahasiswa eksakta sekitar Rp 2 juta per semester. Di Universitas Indonesia, biaya pendidikan terdiri atas uang pangkal (UP) yang dibayarkan sekali selama pendidikan dan BOP yang dibayar tiap semester. Biaya di FT dan FK sama, yaitu UP sebesar Rp 25 juta dan BOP Rp 7,5 juta per semester. Biaya pendidikan di prodi lain berbeda dan dapat dilihat di laman PTN masing-masing. Biaya pendidikan di PTN lain tidak jauh beda dengan kedua PTN tersebut.

    Dari gambaran itu, orangtua calon mahasiswa baru bisa menyiapkan dana untuk menyekolahkan putra-putrinya di perguruan tinggi dan menghitung berapa dana yang harus dikeluarkan sampai lulus sarjana. Biaya itu belum termasuk biaya hidup selama pendidikan.

    Sedang dihitung

    Ketika terbit UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, timbul harapan adanya keberpihakan pemerintah kepada rakyat miskin untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Pasal 74 Ayat 1 UU itu menyatakan, ”PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan calon mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal untuk diterima paling sedikit 20 persen dari seluruh mahasiswa baru yang diterima dan tersebar pada semua program studi.”

    Harapan semakin menguat ketika Mendikbud dan Dirjen Dikti menginstruksikan uang kuliah tunggal (UKT) akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014. Dengan UKT, mahasiswa baru tak perlu membayar berbagai macam biaya, tetapi hanya membayar uang kuliah tunggal yang jumlahnya akan tetap dan berlaku sama pada tiap semester selama masa kuliah. Mendikbud menjanjikan, tidak akan ada lagi biaya tinggi masuk PTN. Pemerintah akan memberikan dana bantuan operasional pendidikan tinggi negeri (BOPTN). Dana BOPTN meningkat dari tahun lalu Rp 1,5 triliun menjadi Rp 2,7 triliun tahun ini.

    Dengan UKT, benarkah biaya pendidikan di PT akan turun? Dari pengalaman, yaitu ketika status PTN berubah menjadi PT BHMN pada 2000, biaya pendidikan di PTN meroket. PT BHMN diberi keleluasaan menarik dana dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sejak itu, muncul berbagai macam biaya seperti uang pangkal, SPMA, SPP, dan BOP. Lebih memprihatinkan, biaya pendidikan di PTN lain yang bukan PT BHMN juga ikut-ikutan naik. Celakanya, biaya pendidikan SD, SMP, dan SMA pun ikut naik. Sepertinya pemerintah tak berdaya mengendalikannya. Jadilah biaya pendidikan tidak terjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hanya orang kaya yang mampu menyekolahkan anaknya di PT.

    Saat ini, semua PTN masih menghitung besaran UKT yang kemudian hasilnya diserahkan ke Ditjen Dikti untuk mendapat persetujuan dan ditentukan besaran BOPTN yang akan diberikan kepada masing-masing PTN. Besar kemungkinan UKT yang dihitung PTN tak banyak berbeda dengan biaya yang sudah berjalan saat ini. Kemungkinan PTN akan menghitungnya berdasarkan pembiayaan pendidikan tahun sebelumnya yang sudah telanjur mahal. Uang pangkal yang nilainya besar bisa saja diratakan untuk delapan semester sehingga kelihatan kecil.

    Kalau kondisi ini yang terjadi, harapan UKT murah tidak akan terwujud, bahkan bisa jadi akan lebih memberatkan. Seharusnya PTN menghitung secara cermat UKT dengan melakukan efisiensi pada pos-pos pembiayaan yang prioritasnya rendah sehingga bisa menekan UKT. Namun, dengan waktu yang sangat terbatas, mengingat proses pendaftaran SNMPTN sudah dimulai 1 Februari 2013, kemungkinan cara ini tidak bisa dilakukan.

    Kuliah dengan sistem kredit tak sesuai dengan biaya pendidikan yang tetap sepanjang masa studi. Misalnya, uang kuliah Rp 7,5 juta per semester. Seorang mahasiswa di semester akhir yang tinggal mengerjakan tugas akhir dengan bobot 4 SKS akan keberatan jika harus membayar Rp 7,5 juta. Dengan BOP per SKS seperti yang berlaku di UGM dalam contoh di atas, seharusnya dia hanya membayar SPP Rp 500.000 plus 4 SKS dengan tarif Rp 75.000 per SKS, atau hanya Rp 800.000.

    Harapan UKT lebih murah hanya tinggal bertumpu pada kebijakan Mendikbud dan Dirjen Dikti dalam memutuskan UKT. Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Pertama, menyetujui usulan UKT PTN dengan cara hitungan yang dilakukan PTN, yang berarti UKT mahal. Kedua, pemerintah memberikan BOPTN dalam jumlah besar sehingga UKT terjangkau. Namun, dana BOPTN sudah ditentukan sebesar Rp 2,7 triliun sehingga tidak mungkin memberikan subsidi melebihi anggaran tersebut.

    Ketiga, pemerintah berani menghapus pos-pos pembiayaan dengan prioritas rendah yang diusulkan PTN. Akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah menunggu penetapan UKT yang segera diumumkan ke masyarakat. Informasi itu sangat ditunggu calon mahasiswa untuk memilih program studi yang dituju.

    Adilkah UKT?

    Data BPS tahun 2012 menunjukkan, jumlah penduduk miskin—seseorang yang pengeluarannya kurang dari Rp 248.707 per bulan—29,1 juta jiwa. Pengeluaran sebesar itu adalah untuk biaya makan, perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Apabila ditambah dengan orang hampir miskin yang pengeluarannya kurang dari 1,2 dari nilai tersebut, jumlahnya lebih dari 55 juta jiwa.

    Bandingkan dengan jumlah penduduk Singapura yang hanya 2,5 juta jiwa dan Malaysia 24 juta jiwa. Sementara itu, ada sekitar 50 juta penduduk menengah-atas yang mampu membeli mobil dan barang-barang berharga lainnya. Di antara 50 juta orang tersebut terdapat 40 orang terkaya di Indonesia yang kekayaannya mencapai Rp 870 triliun. Sementara lebih dari 55 juta rakyat harus mengencangkan ikat pinggang untuk bisa bertahan hidup. Biaya pendidikan yang mahal tak masalah bagi golongan kaya untuk bisa menyekolahkan anaknya. Namun, bagaimana dengan golongan ekonomi lemah?

    Kondisi perekonomian masyarakat sangat bervariasi. Ada warga miskin, sedang, menengah, kaya, dan sangat kaya. Kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan anak-anaknya beragam. Seperti yang diterapkan UGM, biaya pendidikan tidak sama untuk seluruh mahasiswa, bergantung pada kemampuan orangtua. Ada beberapa jalur masuk UGM. Orang kaya bisa melalui jalur dengan SPMA tinggi, sedangkan warga lainnya melalui jalur dengan SPMA lebih rendah dan bahkan nol rupiah. Ini dimaksudkan untuk memberikan subsidi silang. Orang kaya menyubsidi orang miskin.

    Bagi warga miskin, ada kesempatan mendapatkan beasiswa, antara lain beasiswa Bidik Misi bagi warga miskin berprestasi untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Saat ini, setelah berjalan tiga tahun, jumlah mahasiswa yang mendapat beasiswa ini mencapai 90.000 orang, atau sekitar 30.000 orang per tahun. Program ini sangat bagus meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan lebih dari 19 juta warga yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

    Namun, bagi warga dengan kondisi perekonomian sedang dan menengah yang tak masuk kriteria untuk mendapat beasiswa, UKT yang nilainya sama untuk semua mahasiswa dirasa tak adil dan memberatkan. Seorang PNS golongan IV dengan gaji dan tunjangan sebesar Rp 5 juta per bulan akan kesulitan untuk menyekolahkan anaknya di PT. Apalagi, kalau jumlah anak yang kuliah lebih dari satu. Gaji Rp 5 juta per bulan habis untuk biaya hidup yang semakin tinggi. Namun, sebagai orangtua mereka punya harapan untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya agar kehidupan mereka bisa lebih baik di kemudian hari meski dengan berbagai cara, termasuk utang sana utang sini. Kalau PNS golongan IV saja kesulitan untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya, bagaimana dengan masyarakat yang pendapatannya lebih rendah, tetapi tidak termasuk miskin?

    Pendidikan dan kemiskinan

    Data BPS tahun 2011 menunjukkan, jumlah penduduk usia 19-24 tahun (usia seseorang menempuh pendidikan tinggi) sekitar 24 juta jiwa. Sementara itu, angka partisipasi kasar (APK) PT adalah 18 persen. Artinya, penduduk usia tersebut yang mengenyam pendidikan tinggi 4,3 juta. Berarti ada 19,7 juta yang tidak bisa melanjutkan pendidikan di PT, sebagian besar karena tidak mampu membiayai biaya pendidikan tinggi yang sangat mahal.

    Padahal, PT punya peran besar dalam pengentasan rakyat miskin dan mengantarkan bangsa menjadi lebih maju dan bermartabat. Banyak contoh dalam kehidupan di lingkungan kita yang menunjukkan keberhasilan seseorang dicapai melalui pendidikan tinggi. Presiden dan Wakil Presiden RI serta Mendikbud bisa sukses karena mengenyam pendidikan di PT. Pada masa itu, biaya pendidikan tinggi tidak semahal saat ini, yang memungkinkan orang tidak mampu bisa kuliah.

    Kemiskinan dan tingginya biaya pendidikan menyebabkan tingkat pendidikan warga miskin rendah, prestasi akademik kurang baik, sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan layak. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai pekerja serabutan, buruh bangunan, pengamen, pedagang asongan, dan bahkan menjadi pengemis di perempatan jalan. Lebih parah lagi, banyaknya penduduk miskin berpendidikan rendah yang tidak punya pekerjaan bisa menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti tingginya angka kriminalitas, perampokan, penjambretan, pencurian, peredaran narkoba, prostitusi, teroris, dan tindakan negatif lainnya.

    Perlu orang atau institusi PT yang berani berkorban dengan menyelenggarakan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Kemudian, kita evaluasi apakah dengan biaya pendidikan murah kualitas pendidikan akan menurun. Memang, ini tantangan untuk berani melawan arus dan membuktikan bahwa kita mampu memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa.

    Pada masa Orde Baru, dengan biaya kuliah terjangkau bisa dihasilkan tokoh-tokoh berkualitas seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono, Mohammad Nuh, dan banyak tokoh lainnya. Apakah pada masa Orde Reformasi yang biaya kuliahnya mahal akan dihasilkan tokoh-tokoh yang lebih hebat dari mereka? Mari kita buktikan sesuai dengan perjalanan waktu.

     


  6.  

  7. Angels & Demons Soundtrack - HQ Audio (by Rog Rabbit)

     

  8. (Source: petitetiaras, via frosthater)

     

  9. akaway:

    NEVER GIVE UP !

     

  10.  

  11. fuckyeahmahasiswa:

    Seems legit…

     


  12. Rekomendasi film buat mahasiswa.

    fuckyeahmahasiswa:

     

  13.  

  14. fuckyeahmahasiswa:

    Ketawa yang salah tempat dan situasi

    dari Rasyid Indrawan

     


  15. #ShitSaidOnUjian

    fuckyeahmahasiswa:

    1. Always! RT  “Pak ada soal yang dianulir ngga?”

    2. “Open book apa Close Book pak?”  *whatever, yang penting open friend*

    3. “Pak boleh nambah kertas lagi ga pak?” 

    4.  “Pak, kalo prosesnya bener tapi hasilnya salah masih dapet nilai gak Pak ?” 

    5. “Pak ujian ini bobotnya berapa persen ya?” 

    6. “Pak kalo nulis cara dapet nilai ngga?” 

    7. Pak boleh pake hape buat kalkulator ? 

    8.  “kalo sejam uda selese boleh keluar kan pak?”

    9.  “pak soal no. XX gak ada jawabannya ya??” .. (padahal ada) 

    10.  pak ini jawabnya boleh di belakang?

    11. “Pak ini sebutkan aja atau dijelasin juga?” 

    12.  “soalnya boleh dibawa pulang ?” 

    13. “Pak soalnya boleh dicorat-coret?” 

    14. Pak nambah kertas jawaban | wah hebat | buat ngeprint di kosan pak, se-rim ya hehe

    15. “Berdasarkan jawaban dari soal sebelumnya…” 

    16. Pak, kalo bikin soal pake KB. Beranaknya dua aja cukup.